January 27 2012 22:49:47
Navigation
Users Online
· Guests Online: 1

· Members Online: 0

· Total Members: 3
· Newest Member: terisvyxer
Welcome
Euro/Yen Melempem Didorong Pemotongan Rating Italia
ForexPada perdagangan hari ini nilai tukar euro mengalami penurunan lanjutan terhadap yen Jepang (20/09). Euro melemah untuk tiga hari berturut-turut terhadap mata uang Jepang ini di tengah kekhawatiran baru mengenai kondisi ekonomi Italia. Lembaga pemeringkat rating S&P menurunkan rating kredit Italia dan memberikan outlook negatif terhadap rating kredit negara tersebut. Kondisi ini makin memperparah kekhawatiran mengenai krisis utang Eropa.

Euro membukukan penurunan signifikan terhadap yen dan rival-rival utamanya yang lain setelah S&P menurunkan rating kredit Italia ke level A dari level A+. Lembaga ini juga menekankan kemungkinan penurunan rating lebih lanjut karena utang pemerintah Italia saat ini merupakan yang tertinggi di antara negara-negara dengan rating A.

Euro pada perdagangan hari ini tampak berada pada posisi 104.18 yen. Posisi euro hari ini mengalami penurunan dibandingkan penutupan perdagangan dini hari tadi yang berada pada posisi 104.84 yen. Pagi ini euro telah sempat mencapai posisi terendah harian di level 104.15 yen.

Pergerakan euro terhadap yen pada perdagangan hari ini kemungkinan masih akan melanjutkan pergerakan menguat. Minimnya sentimen yang dapat mengangkat euro menjadikan mata uang ini kembali berpotensi untuk mengetes level support pada posisi 103.90 yen.
Pemerintah Siap Mengkonversi Surat Utang Non Tradable di Akhir 2011
NewsPemerintah berencana mengkonversi surat utang yang tidak dapat diperdagangan (non tradable) menjadi bisa diperdagangkan (tradable) secara bertahap pada akhir tahun 2011. Hal ini untuk mengurangi beban bunga utang yang harus ditanggung pemerintah.

Demikian disampaikan Menteri Keuangan Agus Martowardojo saat ditemui di kantornya, Jalan Wahidin Raya, akhir pekan ini Jumat (16/9/2011).

"Itu nanti mulainya kita harapkan di tahun ini atau awal tahun depan. Di tahun ini atau paling lambat awal tahun depan," tegasnya.

Menurut Agus Marto, konversi secara bertahap ini untuk menyiasati tambahan beban bunga tersebut.

"Sehingga nanti beban bunganya tetap bisa diterima oleh fiskal kita. Dan itupun, nanti akan ada pembagian (sharing) untuk beban bunga antara pemerintah dan Bank Indonesia (BI)," ujarnya.

Meskipun demikian, Agus Marto masih enggan menjelaskan detail mengenai pelaksanaannya. Agus juga masih belum mau membeberkan mengenai pentahapan konversi surat utang negara ini. Pasalnya, saat ini BI dan Kementerian Keuangan masih menggodok mengenai teknis pelaksanaannya.

"Kami mesti melakukan kajian yang hati-hati. Bentuk dan restrukturisasinya masih belum dibicarakan," jelasnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keungan Rahmat Waluyanto mengatakan pemerintah akan mengonversi Surat Berharga Negara (SBN) yang tidak bisa diperdagangkan sebesar Rp 250 triliun.

"Sebagai konsekuensinya, pemerintah harus menanggung beban tambahan untuk biaya bunga," ujarnya di DPR RI beberapa waktu lalu.

Sebagai informasi, untuk mengantisipasi keluarnya arus modal asing (capital outflow) apabila terjadi guncangan ekonomi global pemerintah juga telah menyiapkan bond stabilization framework (BSF).

Di dalam BSF ini, salah satu instrumennya adalah dengan BUMN fund, yaitu mengikutsertakan pendanaan dari perusahaan BUMN untuk melakukan buyback SUN. Selain itu, pemerintah juga menggunakan dana cadangan yang brasal dari Sisa Anggaran Lebih (SAL) untuk membeli SUN yang dilepas oleh investor asing.
Pasar Uang Domestik Masih Aman dan Likuid
NewsBank Indonesia (BI) memandang adanya sentimen negatif di pasar keuangan global hanya memberikan tekanan yang besar terutama di pasar saham dan pasar obligasi pemerintah. Tetapi bank sentral tidak melihat tekanan di pasar uang domestik yang dinilai masih cukup aman dan likuid.

Koreksi harga saham terjadi di hampir seluruh sektor ekonomi. Terbesar di sektor pertambangan, perdagangan dan pertanian.

Koreksi IHSG relatif lebih kecil dibanding rata-rata kawasan Asia, meskipun lebih besar dibanding Malaysia, Filipina dan Cina. Sementara di pasar obligasi, penjualan Surat Berharga Negara (SBN) oleh asing relatif lebih kecil dan mampu dibeli oleh pelaku domestik, khususnya bank.

Karenanya, yield SBN tidak mengalami kenaikan signifikan. Dibanding kawasan, yield SBN masih relatif menarik investor asing. Namun, besarnya porsi SBN asing yang lebih bedar dibanding kawasan perlu terus diwaspadai.

Sedangkan ekses likuiditas di pasar uang domestik masih besar, sehingga dampak krisis global tidak terlihat di pasar uang dalam negeri. Bahkan, suku bunga pasa uang antar bank (PUAB) masih dalam tren menurun.

Suku bunga perbankan (deposito dan kredit) juga dalan tren menurun, meskipun spread suku bunga masih besar. Penyaluran kredit perbankan juga terus meningkat, dengan pertumbuhan kredit modal kerja dan investasi yang lebih tinggi.

Pertumbuhan kredit perbankan dalam setahun terakhir mencapai Rp 275,6 triliun atau tumbuh 23,5% Juli 2011. Sebagian besar kredit untuk pembiayaan ekonomi produktif. Dibanding periode yang sama tahun lalu, kredit investasi dan kredit modal kerja tumbuh lebih baik, sedangkan kredit konsumsi lebih rendah.

Dalam setahunan (year on year) pertumbuhan kredit modal kerja mencapai 25,3%, kredit investasi 21,9% dan kredit konsumsi 21,9%.
Industri Telekomuniakasi Semakin Cerah, BBRI Jalin Kerjasama dengan MITRATEL
NewsPT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) tengah menyadari bahwa perkembangan bisnis telekomunikasi di Indonesia kian meningkat. Mengenai hal tersebut BBRI kian gencar menigkatkan investasinya pada bisnis terlekomunikasi, PT Dayamitra Telekomunikasi (MITRATEL) salah satunya. Kemarin BBRI telah menandatangani Perjanjian Kerjasama (PKS) dengan MITRATEL. Perjanjian tersebut berisikan tentang pemberian kredit modal kerja.

Sperti yang diungkapkan oleh Djarot Kusumayakti selaku Direktur Bisnis UMKM BRI bahwa BRI berkomitmen dalam mendukung pembiayaan kepada para vendor PT Dayamitra Telekomuniakasi yang berjumlah 150 vendor untuk membangun proyek-proyek PT Dayamitra Telekomunikasi yang salah satunya adalah pendirian tower provider. Selain itu Djarot juga mengatakan bahwa PT Dayamitra Telekomunikasi besrta vendor-vendornya dapat menjadikan BRI sebagai mitra yang handal dan terpercaya.

Turun 200 poin dari pembukaan, saat ini (16.35 JATS) BBRI berada pada level 6.200 (19/9). Indikator stochastic memberikan sinyal adanya rebound setelah kemarin garis %K memotong garis %D dari bawah (golden cross). Namun indikator MACD memberikan sinyal lain dimana pelemahan garis MACD didukung oleh histogram negatif yang memanjang. Begitu juga dengan moving average dimana EMA 5 masih berada dibawah EMA 20.

Saat ini BBRI masih akan melemah seiring adanya krisis hutang perbankan di zona Eropa. Namun melihat pertumbuhan kinerja perseroan selama dua tahun terahir, dalam jangka panjang diharapkan BBRI dapat mencapai titik tertinggi nya kembali. Dengan Support di level 6.700 dan resistance di 7.900 disarankan untuk buy on weakness.
Emas Naik Tipis, Memanfaatkan Minimnya Sentimen di Bursa Saham
ForexHarga emas pada sore hari ini (19/9) kembali mengalami penguatan. Minimnya sentimen positif yang berkembang di bursa saham global dan juga adanya kekhawatiran investor mengenai belum adanya sebuah resolusi yang kuat paska pertemuan menteri keuangan Eropa akhir pekan lalu. Kondisi tersebut juga ditambah oleh adanya fokus investor terhadap rapat Fed yang akan dilangsungkan pada pertengahan pekan ini.

Disaat yang bersamaan, pergerakan harga emas memperoleh sentimen positif dari liburnya bursa saham Jepang dan juga bursa komoditi Jepang yang menghasilkan penurunan transaksi emas global pada hari ini.

Emas spot saat ini mengalami kenaikan sebesar 0,7% menjadi 1827,3 dollar per troy ons dengan level support sebesar 1804,7 dollar per troy ons dan level resistant sebesar 1827,34 dollar per troy ons.

Pergerakan harga emas diperkirakan akan masih meningkat meski cenderung tidak terlalu signifikan. Sepinya sentimen pada hari ini mendatangkan adanya keengganan bagi para investor untuk bertransaksi terlalu besar.
Bursa Berjangka AS Melemah Akibat Negatifnya Saham Perbankan
ForexBursa berjangka AS pada perdagangan hari ini (19/9) tercatat mengalami pelemahan. Saham-saham perbankan terpantau menurun akibat adanya kekhawatiran terhadap peluang pemulihan kondisi finansial Eropa yang masih semu dan belum menemukan solusi yang tepat meski di akhir pekan lalu telah diadakan pertemuan para menteri keuangan Eropa.

Indeks berjangka Dow Jones melemah sebesar 1,56% menjadi 11268 basis poin. Indeks berjangka Nasdaq 100 turun 1,52% menjadi 2272,5 basis poin dan indeks berjangka S&P 500 melemah 1,6% menjadi 1192,4 basis poin.

Saham-saham yang mengalami penurunan diantaranya ialah saham Bank of America yang turun 1,36% menjadi 7,23 dollar, saham Alcoa melemah 0,08% menjadi 11,97 dollar dan saham Citigroup melemah 2,1% menjadi 28,38 dollar.

Pergerakan bursa AS diperkirakan akan masih rawan koreksi. Minimnya sentimen dan pelemahan harga minyak mentah menjadi sebuah penghalan bagi pergerakan bursa AS saat ini.
Dollar AS Menguat Tipis, Pasar Cermati Rencana Kebijakan Stimulus Presiden Obama
ForexPada perdagangan forex mendekati pembukaan sesi Amerika malam hari ini (19-09) , Dollar AS terpantau bergerak menguat tipis terhadap mata uang utama lainnya.

Indeks Dollar AS bergerak menguat sekitar 0.14% pada perdagangan forex hari ini setelah mengalami tekanan pada minggu lalu. Secara umum mata uang Dollar AS masih memiliki momentum yang cukup baik untuk menguat lebih lanjut.

Pada market briefing menjelang sesi Amerika hari ini bahwa pada pergerakan intraday hari ini, Dollar AS berpotensi merespon pengumuman pada sektor perumahan dan pidato ekonomi oleh Presiden Barrack Obama.

Walaupun dampak secara intraday diperkirakan tidak terlalu besar, namun gambaran mengenai rencana stimulus fiskal di negara tersebut diharapkan dapat memberikan sinyalemen yang cukup positif bagi mata uang Dollar AS.
Login
Username

Password



Not a member yet?
Click here to register.

Forgotten your password?
Request a new one here.
21,640 unique visits